Senin, 29 April 2013

MOCIN 040812



“MOCIN 040812”
Ribuan kertas usang mampu aku sulap dengan coretan tinta pena tua yang entah berarti apa. Ini coretan tanpa arti aku buat setiap malam. Aku mengarangnya atas dasar hati dan keegoanku.
Aku adalah salah satu murid kelas 2 SMA disekolah ini dan aku mengenali sosok 040812 ini dari sini. Waktu itu adalah hari free tanpa pelajaran. Setalah UAS 2 minggu full dan minggu ini adalah class meeting sebelum liburan kenaikan kelas. Hari ini adalah class meeting terakhir dan setelah itu penerimaan rapot dan libur panjang.
Aku seperti biasa duduk di pinggiran lapangan futsal dengan sahabat – sahabatku. “ ra, eh dia minta nomor hp kamu tuh ?” kata teman sekelasku septian sambil menepuk bahuku. “ siapa, maksudmu si dia itukah ?” jawabku sambil menuliskannya
Inilah awal mulai kami berkenalan. Setiap malam sebenarnya aku jarang memegang HP. Dan sampai dia datang merubah segalanya. Malamnya, sekita pukul 19.00 Hpku berdering, ternyata nomor tak dikenal, dan aku sudah menebak pasti si dia. Selama liburan, setiap hari kami tak henti-hentinya untuk saling membalas sms. Ada yang lain dari dia, dia mampu membuatku nyaman dan betah bercanda dengannya. Namun aku masih tetap tak perduli atas perasaanku.
Semua masih sama, dia masih menemaniku, dan aku dan si dia mempunyai julukan “soulmate” . Hari ini kebetulan hari jumat, setiap jumat dia pergi les meskipun begitu dia masih sempat menghubungiku tapi tidak untuk kali ini, smsku pu tak dibalasnya. Semakin membuatku penasaran dan khawatir. Dan memang benar firasatku, dia kecelakaan tapi tak terlalu parah hanya sebagian luka ditangan. Malamnya dia menelfonku dan disitu aku melarangnya untuk masuk sekolah karena kondisinya yang tak memungkinkan. Namun dia membantah karena dia bilang ada hal penting yang harus dia sampaikan, dan akupun hanya menurutinya. Di malam itu kami saling canda tawa dan sempat kami menyanyikan lagu Geisha – “takkan pernah ada” berdua.
Paginya masih biasa tak ada yang beda, perasaanku pun biasa saja. Tak ada yang aneh, pelajaran dikelas pun berlangsung seperti biasa, tapi tidak ketika pelajaran bahasa jepang berlangsung.
“tok tok tok” bunyi pintu diketuk. “ permisi sensei mau ada perlu sama derara ?”. Aku pun langsung kaget, dia benar masuk sekolah ? Dan dia memanggilku untuk apa ? beribu pertanyaan mengelilingi kepalaku. Aku pun langsung keluar dan menemuinya. Disitu dengan tidak sengaja melihat lukanya yang masih basah.
 “kenapa ?” tanyanya
“hm gapapa, kenapa kamu paksa masuk lukamu masih basah begini ? “jawabku
“ada hal penting yang ingin aku sampaikan” kata si dia
“sepenting apa ? sampai kau rela masuk menyampaikannya kepadaku ?” tanyaku penasaran
“dengar aku, kali ini aku serius, jawab jujur dari hatimu ya?” tanyanya
“ya tapi apa ?” tanyaku kebingungan
“aku sayang sama kamu soulmateku, apa kau mau jadi pacarku ?”  tanya dia sambil tersenyum manis.
hah ? apa ini ? apa aku mimpi ? apa aku sedang ngelindur ? apa yang dia katakan barusan ? beribu pertanyaan muncul, aku pun langsung tercengang. dia menyodorkan flash, kalau aku mengambilnya berarti aku menerimanya, dan kalau tidak tentu saja aku menolaknya. Aku tertegun beberapa menit itu dia pun hanya tersenyum melihatku dan tanpa perasaan ragu akhirnya aku mengambilnya dan berkata “mari kita jalani”.
Sudah kuduga dari awal untuk bersamanya begitu sulit. Banyak masalah dan rintangan yang kami lalui sampai 6 bulan berlalu. Di minggu ini awal pertengahan februari banyak sekali masalah terjadi dan itu tak henti – hentinya. Tapi aku tetap sabar untuk dia, aku harus bisa dewasa. Tapi sahabat – sahabatku berpendapat lain bahwa aku sudah keterlaluan. Hingga sampai dia satu minggu tak menghubungiku, mengacuhkanku.
Selama beberapa hari itu aku sering menangis, sampai akhirnya aku tak kuat aku menceritakan semua. Malamnya aku ditelfon sahabatku Dwi, dia memberitahuku bahwa dia (pacarku) punya wanita baru hari jadiannya pun sudah lama desember lalu sebelum aku ke jogja, sebelum aku ultah. Lalu kuletakkan Hpku, terdiam dan bersandar didekat jendela kamar memeluk erat mainan kayu darinya dan mengingat malam hari ulangtahunku. Sebuah kado terindah pengkhianatan.
Apa ini Tuhan ? sebuah meteor jatuh didepanku dan meledak tak bisa ku sangka. Aku masih berada didekat jendela dengan tangisan yang tak bisa ku bendung, dengan lara yang tak bisa aku tepis dan dengan kekecewaan yang sangat perih. PENGHIANAT ! kau boleh melakukan hal yang kau suka, tapi tidak untuk menduakanku ???! kau pembohong, semua hanya akal busukmu, jahat, kau kejam ! terus untuk apa kau umbar janjimu itu, apa hanya omonganmu yang begitu besar. Tuhan, aku terlalu lemah untuk semua ini, sekejam inikah yang dinamakan cinta, Tuhan ?
Aku pun langsung menelfon sahabatku Amil, aku menceritakan semua dan lagi – lagi aku tak bisa menahan air mata. Paginya aku diajak  pergi ke jogja bersama Amil untuk ke bukit bintang melepas segala penat melupakan semua kejadian kemarin. Amil bilang percuma aku menangis tangisan itu takkan membawa dia berubah dan kembali padamu. Dia belum tentu juga memikirkan hatimu yang hancur sekarang ini, bangkit ra ! kamu wanita kuat, ayo bangkit ! mana derara yang dulu ceria, ayo tunjukkan pada dia kalau kamu bisa. Aku selalu mendukungmu ra, aku tau kamu kuat ! kamu sahabatku yang paling kuat ! J keep smile derara J
Inilah akhir dari 04812, hanya ilusi namun cerita nyata yang mampu dikenang oleh waktu.
“sebuah ketulusan hati yang ditaburi oleh kesabaran tak banyak orang yang punya. Dan ketika ketulusan itu tlah disia-siakan jangan bersedih. Bangkit ! buka mata hatimu, lihatlah sekelilingmu masih banyak orang yang menanti ketulusan itu. Ingatlah, kau tak sendiri, perhatikan itu sahabat dan teman – temanmu berlari mendekatimu dan menolongmu dari bahaya penghianatan itu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar